Indonesia International Furniture Expo 2018: HIMKI: Indonesia Perlu Pusat R&D Furnitur dan Kerajinan - IFEX 2018

A Short Page Title Tagline

Indonesia International Furniture Expo 2018: HIMKI: Indonesia Perlu Pusat R&D Furnitur dan Kerajinan

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Soenoto, terus mengkampanyekan dukungan HIMKI bagi pertumbuhan industri furnitur dan kerajinan di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk merealisasikan target ekspor yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar US$2 miliar pada 2018 dan US$2,5 miliar pada 2019. Di sisi lain, ia berharap pemerintah bisa memberikan dukungan secara nyata bagi pertumbuhan industri seperti dukungan dalam hal kebijakan maupun bantuan teknis dan non-teknis.

Jakarta, 10 Maret 2018 – Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Soenoto, terus mengkampanyekan dukungan HIMKI bagi pertumbuhan industri furnitur dan kerajinan di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk merealisasikan target ekspor yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar US$2 miliar pada 2018 dan US$2,5 miliar pada 2019. Di sisi lain, ia berharap pemerintah bisa memberikan dukungan secara nyata bagi pertumbuhan industri seperti dukungan dalam hal kebijakan maupun bantuan teknis dan non-teknis. Menurutnya saat ini dukungan nyata dan kerjasama yang telah terjalin baik bagi pertumbuhan industri furnitur dan kerajinan baru dilakukan oleh sebagian kementerian. Ia menyatakan apabila seluruh kementerian, berikut badan-badan terkait, ikut memberikan dukungan maka target ekspor di atas akan bisa dicapai dengan mudah. “Tidak ada kementerian yang tidak berhubungan dengan industri furnitur,” tegas Soenoto. Dengan Kementerian Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, misalnya, bisa dilakukan pemberdayaan kepada para wanita untuk membuat kerajinan furnitur, tambah Soenoto. Industri furnitur merupakan industri padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Dari target US$5 miliar tersebut, menurut Soenoto, tiap US$1 miliar bisa menyerap tenaga kerja sekitar 500 ribu orang. Semakin besar tenaga kerja yang terserap maka semakin besar pula potensi ekonomi yang bisa digerakkan oleh industri furnitur dan kerajinan Indonesia. Hal lain yang menjadi sorotan HIMKI adalah perlunya dibangun sebuah pusat riset dan pengembangan (R&D) industri furnitur dan kerajinan. Dari target nilai ekspor di atas, HIMKI berharap sebagian bisa dialokasikan untuk kegiatan R&D yang membutuhkan biaya yang cukup besar demi menghasilkan produk-produk berkualitas, serta desain-desain inovatif. Indonesia juga dikenal kaya akan sumber bahan mentah untuk industri furnitur dan kerajinan. Bahkan, Indonesia dikenal sebagai penghasil terbesar bahan baku rotan dunia, yaitu 85 persen. Namun menurut Soenoto, institut rotan justru berada di Jerman dan bukan di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan HIMKI dan pemerintah mendirikan Politeknik Industri Furnitur yang berlokasi di Kendal, Jawa Tengah. Kekayaan sumber daya alam Indonesia perlu dilindungi agar bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Untuk itu, HIMKI terus mendorong agar ekspor bahan mentah kayu dan rotan tidak terjadi lagi. “Hal ini sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945 yang menyatakan, ‘Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat’,” ujar Soenoto. Kemakmuran rakyat, tambahnya, bisa diartikan dengan ketersediaan lapangan kerja dan ini bisa diberikan oleh industri furnitur dan kerajinan. Perluas Pasar Ekspor HIMKI juga terus berusaha memperluas pasar ekspor ke berbagai negara di dunia. “Saat ini kami mulai membangun pasar di Timur Tengah, juga ke Eropa Timur seperti Budapest dan Rusia,” terang Soenoto. Di sisi lain, HIMKI terus mempertahankan pasar ekspor tradisional seperti Amerika Serikat, Eropa, dan China. Upaya membangun pasar ini juga dibarengi dengan promosi ke berbagai negara tersebut, serta menggelar pameran internasional yang menunjukkan kualitas produk-produk furnitur Indonesia yaitu Indonesia International Furniture Expo (IFEX). Dari tahun ke tahun IFEX terus menunjukkan perkembangan yang luar biasa dan saat ini menjadi pameran terbesar di kawasan Asia Tenggara. IFEX diselenggarakan selama empat hari mulai 9 – 12 Maret 2018 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran. Menempati lahan seluas 60.000 meter per segi, gelaran IFEX tahun ini diikuti oleh lebih dari 500 ekshibitor dan menargetkan visitor dan buyer sebesar 12.500 orang, dimana setengahnya merupakan visitor dan buyer luar negeri. Pada hari kedua ini, IFEX menghadirkan seminar dengan tema “Strategies to Increase Production Capacity” dengan menghadirkan pembicara dari Perhutani dan Lunjiao Woodworking Machinery Chamber of Commerce. Pada malam harinya, IFEX 2018 akan menggelar Buyers and Exhibitors Gathering yang menjadi ajang pertemuan para peserta secara kasual. Di acara ini diumumkan pula para pemenang IFEX Appreciation Awards yang terdiri dari Best Stand, Best Furniture Design, dan Best Craft Design. “Ke depannya HIMKI berupaya membangun sistem pameran yang komprehensif, integrated, profesional, produktif, indah dan long-term. Pameran yang indah artinya menampilkan karya-karya yang luar biasa dan long-term artinya pameran ini akan terus berjalan sampai bertahun ke depan,” pungkas Soenoto.

IFEX